Kamis, 23 Oktober 2014

Suara tartil terucap dari pria yang menjadi imam sholat subuh di masjid kami. Beliau dikenal memiliki memang memiliki banyak hafalan di usia yang sepuh. Tak heran bila di masjid ada beliau, kebanyakan kami menggandeng tangan dan menuntunnya berada di shaf terdepan sebagai imam. Yah perlu ditegaskan lagi kami menggandeng dan menuntun beliau. Apa yang kurasa saat pertama kali melihat hal ini adalah “ALLOH telah memuliakan beliau di dunia dengan sebab al – qur’an, ALLOH juga mungkin akan menempatkan beliau di akhirat nanti ditempat mulia disebabkan 2 hal : hafalan dan kesabaran beliau menerima takdir” subhanalloh Rasanya belum pernah saya mendengar dari lisannya keluh kesah tentang ujian ini. Ujian yang bila dialami oleh orang normal mungkin akan merasa gelap dalam hidup, tak ada warna dan tak ada rasa. Namun inilah yang dicontohkan beliau ke kami dalam keterbatasan, untuk tetap gigih sholat berjamaah datang ke masjid meski harus meraba jalan dengan tongkat. Beliau seakan mengajar kami untuk mengenal sujud sajadah diawal rokaat sehingga kami tak asing bersujud bila ada ayat sejadah dibaca. Sebenarnya ada banyak hal lagi yang ingin saya tulis tapi saya hanya ingin mengambil kesimpulan “kita merancang ALLOH menentukannya” yup. Menurut saya tak ada orang yang ingin hidup dalam kondisi seperti beliau tapi kata guru-guru saya : “ bila takdir ALLOH menetapkan hal-hal yang kita tidak sukai terjadi. Maka sebagai seorang hamba kita perlu menerima dan mengoptimalkan anugrah ALLOH yang masih ada sebagai sarana ibadah. Menurut saya beliau contoh nyata dari nasehat guru-guru saya.
Bismillaah… Ya ALLOH ternyata begitu banyak nikmat yang KAU berikan. Hingga hamba – MU ini tidak dapat menghitungnya. kami bersyukur kepada-MU, kami mohon bimbingan dan mohon keridhoaan – MU. Lancarkanlah urusan kami.. ya ALLOH, tolonglah kami dalam mengingat – MU, mensyukuri atas segala nikmat – MU dan dapat bersemangat kepada – MU dengan sebaik-baik ibadat. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar